Pak Pieter, Mantan Guru Orkes SMP 13
Suatu hari saya dapat SMS dari Shanty, teman sekelas 3C di SMP 13. Bunyinya bahwa Pak Pieter, guru Orkes (Olah Raga & Kesehatan) waktu kami SMP dulu dalam keadaan koma karena gagal ginjal. Perlahan mulai terbayang sosok Pak Pieter, guru Orkes yang dulu kerap menciprati kami dengan keringat muka beliau, caranya berjalan, caranya berbicara, anatomi tubuhnya yang gendut, perut buncit tapi lincah. Tapi masih samar2.Kemudian suatu waktu teman SMPku Reza Gempit mengajak saya chat di Facebook, berusaha mencari tahu keberadaan Pak Pieter di RS Fatmawati, sampai2 Gempit mengutus orang untuk mencari Pak Pieter ke sana, walau akhirnya tidak ketemu. Dari Gempit saya baru tahu kalau julukan nama Gempit berasal dari Pak Pieter.
Kemudian melalui Facebook message, teman sekelas lain yang bernama Nunik (entah kenapa, dulu panggilannya Endang, memberi kabar duka bahwa istri pak Pieter malam itu wafat, sedangkan Pak Pieter masih dalam keadaan koma.
Setelah mendapatkan info lebih detail tentang Pak Pieter dari Endang, kita berniat untuk membesuk Pak Pieter ke RS Fatmawati. Akhirnya yang berkesempatan besuk Sabtu sore ini (21 Mar 09) ada saya, Gama & Reza Gempit.
Saya dan Gama yang tiba lebih dulu jam 5am di RS Fatmawati, sedangkan Gempit masih OTW dari kantornya. Berdua kami mencari kamar 627 paviliun Teratai, melalui selasar-selasar RS Fatmawati, akhirnya kami tiba di kamar tsb.
Awalnya kami sempat bingung ketika mencari nama pasien Pieter di kamar berisikan 6 orang tersebut Kelihatannya paviliun Teratai khusus untuk merawat pasien2 dgn terminal illness, atau penyakit yang sudah kritis. Setelah memberi tahu bahwa Pak Pieter ini adalah seorang guru, baru perawat mengenalinya. Beliau terdaftar atas nama Frederick (nama lengkap beliau adalah Pieter Frederick Siauta.) Perawat tersebut menunjuk sesosok tubuh gemuk terbaring di sudut ruangan.
Walau rambut sudah memutih, perawakan beliau masihlah sama. Raut muka juga mudah dikenali. Sosok Pak Pieter dalam ingatan saya makin nyata. Dari perawat kami mengetahui kalau kedua ginjal beliau sudah tidak berfungsi, ditambah komplikasi dengan gula dan stroke. Kedua tangannya sudah membengkak karena ginjalnya sudah tidak bisa menawar racun lagi.
Yang menunggui Pak Pieter selama sebulan 2 minggu ini adalah keponakannya Roy. Dari Roy kami berusaha mencari tahu ahli waris beliau, sehingga nanti kami bisa menyalurkan bantuan kepada yang berhak. Anak tertua beliau bernama Ferry Siauta. Kami juga mencatat no telponnya.
Roy menyarankan kami untuk berbisik di telinganya. Kadang2 beliau bisa mencerna apa yang didengarkannya dan berespons dengan menggerakkan matanya yang terpejam, menggerakkan kaki, bahkan kadang menangis. Tapi tidak bisa membuka mata, apalagi berbicara, tapi masih bisa merasa. Kami mencoba berkomunikasi dengan beliau. Saat kami berkata, kaki beliau bergerak2, mata bergerak walaupun tertutup, dan dada beliau naik turun, seakan sesunggukan. Kami merasa beliau dapat merasakan apa yang kami coba utarakan, bahwa kami mantan muridnya di SMP 13, lulusan 1987. Saya tidak tahu kalau Gama, tapi saya haru.
Setelah mendapatkan informasi akhir dari Roy, dan berpesan minta dihubungi kalau ada apa2, kami minta diri. Di bawah kami bertemu dengan Reza Gempit dan sedikit banyak bercerita panjang lebar di kantin RS Fatmawati. Sambil minum kami baru ngeh kembali kalau Pak Pieter dulu wali kelas 3H, dan sangat dekat sekali dengan murid2nya. Saya mencoba menanyakan dari mana asal kata Gempit, ternyata dulu Reza suka bertelanjang kaki waktu main basket di aula, dan dijuluki “Gembel”, sedangkan “Pit” berasal dari kata “Pieter”, jadilah disingkat dengan “Gempit”.
Dari tutur Gempit, saya bisa merasakan kedekatannya dengan beliau. Kemudian saya menemani Gempit kembali ke ruang 627 paviliun Teratai. Sekitar 10 menit lagi saya berada di kamar itu, menemani Gempit yang mengusap bahu Pak Pieter, dan membisikkan sesuatu kepada Pak Pieter. Saya bisa merasakan bahwa Pak Pieter merasakan kehadiran Gempit.
Saat kami keluar dari ruangan, tangan kanan Pak Pieter terangkat, seolah ingin mengucapkan selamat berpisah…
Saya ingin menutup catatan kecil saya tentang pak Pieter dengan mengutip diary masa SMP saya, salah satu interaksi saya dengan Pak Pieter.
“Pak Pieter, semoga segera pulih kembali…”

March 26th, 2009 at 10:23 pm
“Pak Pieter, semoga segera pulih kembali…”
semoga para muridnya menghargai & membalas jasa beliau …
amin,ya rabbal alamin !!!
May 20th, 2009 at 1:39 pm
nggak sengaja buka2 google search Siauta kok nemu blog ini……Thanks ya …sampai nangis bacanya ……besok saya harus ke kubur Papa ….kangen …betapa irinya saya karena tidak pernah merasakan diajar Papa(hehehe dulu saya pernah cemburu lho sama murid2nya)…kalau nggak salah angk 87 itu yg jalan2 ke Bali itu yach?
May 20th, 2009 at 1:48 pm
Halo Ariesca, wah kehormatan nih ketemu Anaknya yang lain. Kemarin sempat berkunjung dan ketemu bang Ferry.
Mungkin hanya tur kelas ya yang ke Bali. Beliau wali kelas 3H angkatan 87.