BE LIKE a MOUNTAIN…. The Practice of EQUANIMITY
Artikel ini aslinya ditulis oleh teman saya Sofie di Facebook Note-nya. Saya mendapatkan afirmasi instan dari posting ini, jadi saya kutip ulang di blog saya. Thanks Sofie.

Oleh: Soufiarina Sofie
Ketika mendengar berita buruk, jantung kita langsung berdebar, nafas menjadi pendek, wajah kita berkerut.
Ketika mendengar berita gembira, hati kita melonjak, wajah kita tersenyum.
Dari kedua contoh di atas, tercermin bahwa pikiran kita selalu bereaksi/ bergejolak terhadap situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga kita kehilangan –“center“ (kondisi bathin yang balance).
Ini menggambarkan kebiasaan reaksi (mind)kita bekerja secara automatis, terkondisi dan tak menentu, sudah terprogram.
Di sinilah kita perlu melatih kondisi mind kita agar selalu berada dalam kondisi Equanimity. (Bagi saya pribadi inilah meditasi yang sebenarnya).Equanimity adalah suatu kondisi keseimbangan bathin (mind) yang mampu untuk tetap tenang dan seimbang di tengah-tengah gejolak hidup.
Orang yang sudah menguasai equanimity, temperamennya tetap seimbang tidak terpengaruh dengan apa yg terjadi di luar.
Mereka telah belajar untuk tidak memperturutkan pada sesuatu yang mereka suka atau tidak suka, tidak juga bereaksi terhadap situasi sesuai keinginan atau keengganan mereka.
Ini tidak mudah untuk dunia yang serba modern sekarang ini. Dengan segala problema, keinginan, kebutuhan dan kekacauan lingkungan yang terjadi.
Equinimity merupakan konsep yang sulit untuk diterapkan.
Ketika emosi (emosi negatif/marah atau positif/gembira) yang kuat datang—terhadap kesakitan atau kesenangan, kesuksesan atau kegagalan, keadaan stress atau lega respon kita–- coba ingatkan pada diri kita dan katakan, “Ini juga akan berlalu“ (karena semua tidak ada yang kekal)
Seseorang menanggapi, “tapi tunggu dulu, saya mengerti kalau kita harus tidak bergejolak dan tetap tenang menghadapi kesulitan, tapi kalau salah untuk bereaksi menikmati kebahagiaan? Ini sama saja seperti kita diminta untuk mati rasa samasekali terhadap apapun. Saya lebih memilih untuk merasakan apapun walaupun kadang menyakitkan“.
Lalu, bagaimana dengan bereaksi untuk memperjuangkan keadilan demi kepentingan umum? Kalau kita tidak bereaksi dan bertindak terhadap semua kericuhan yang terjadi, bagaimana kita akan membuat perubahan terhadap lingkungan dan dunia ini?
Kedua tanggapan di atas adalah point yang bagus. Kita tetap bisa merasakan sesuatu dengan dalam, tanpa kehilangan keseimbangan di bathin (mind) kita. Bathin (mind) kita tetap dalam ketenangan.
Dengan mempraktekkan equanimity, kita belajar menyesuaikan tendensi kita terhadap kekhawatiran.
Ketika kita membaca berita, khawatir terhadap keadaan ekonomi, bangsa, negara dan dunia. Hal seperti ini pantas untuk di perdulikan, tapi kekhawatiran kita dan meributkan keadaan itu tidak akan ada habisnya dan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Kalau kita benar-benar memahami bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa makna & pelajaran bagi orang2 yang terkait di dalamnya, maka kita akan menerima semua itu dengan tersenyum memperhatikan drama kehidupan ini dari sisi ’OBSERVER’ yang paham akan pelajaran hidup sambil mengamati peran pemain2 drama ini dengan simpati.
Dengan menjaga bathin (mind) kita dalam ’Equanimity’ secara energy kita belajar untuk tidak terseret vibrasi atau frekuensi orang2 yang bereaksi dengan kondisi external itu.
Mempraktekkan Equnimity memungkinkan kita untuk melihat segala sesuatu apa adanya, pada saat bersamaan tidak menjadi ‘attach’ terhadap hasilnya.
Equanimity– The Pali word Uppekkha, meaning to look over, comes from the ability to observe and not attach to the objects of our observation.
Equanimity is perfect, unshakeable balance of mind and rooted insight.
Equinimity bukan berarti kita menjadi tidak peduli terhadap suatu kejadian. Malah sebaliknya kita cukup berani mengakui bahwa kita tidak selalu mempunyai jawaban atas segala masalah. Kita menyadari bahwa kita tidak dapat mengontrol masa depan. Apa yang kita pikirkan mungkin bisa atau mungkin tidak bisa menjadi jalan keluar untuk jangka panjang atau mungkin juga bukan jalan yang terbaik untuk suatu “Big Picture”.
Dengan tetap berada dalam ‘equanimity’ kita membuka segala peluang kemunginan yang akan datang.
Di dalam Buddhism, Sufism dan kabalah, kondisi equanimity, muncul sabagai tanda sesorang yang sudah mencapai ‘Enlightenment’, sebagai kualitas yang penting dan mengagumkan dari kondisi hati dan pikiran (Mind and Heart). Pikiran-hati yang lapang, memberikan ruang untuk setiap kesulitan dan daya tarik kehidupan, untuk menerima segala sesuatu yang kita inginkan dan yang tidak kita inginkan. Equanimity mengijinkan kita untuk hidup bebas, membiarkan apapun mempunyai tempatnya sendiri tanpa kita berada di dalamnya, atau tanpa menyeret kita.
Dalam kondisi Equanimity, kita hidup dalam kondisi ‘saat ini’ tanpa terbelengu tidak juga berjuang untuk sesuatu yang tidak dapat kita elak-kan dalam hidup ini.
*Mengambil sedikit Kutipan dari Frederic and Mary Ann Brussat
mm.. what makes you choose this ‘equanimity’ to be the subject of your friday?
… it’s true, nothing is coincidence in this life. everything has it’s paths n duty in their life.
do u think we should always back to our track than to welcome n explore new opportunity, instead? or take the opportunities by using ur track? (umm… a bit hard to do
P
setuju ..
cuma itu ..
dengan “Mengaji” juga bisa ..