RIP Chandra Djunaedy: Sebuah Catatan Tentang Kematian

RIP Chandra Djoenaedy

Saya terhenyak saat mengetahui bahwa teman kuliah saya Chandra Djunaedy telah meninggal dunia. Kabar ini saya dapatkan melalui BBM dari Andrias Sugeng. Saat itu kabarnya masih simpang siur, hingga akhirnya didapat berita yang mendekati kepastian bahwa Chandra meninggal karena tergulung ombak saat snorkling di Bunaken. Beritanya bahkan sampai dimuat di Swara Manado dan Detik Online.

Misa Penghiburan Jenazah Chandra Djunaedy

Walaupun secara pribadi tidak terlalu akrab dengan Chandra, tapi saya berniat untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Almarhum karena kesan saya yang sangat mendalam akan kepribadian beliau yang sederhana dan pekerja tekun. Segera saya mencari kesempatan untuk dapat melayat ke Bandung dan ternyata Andrias mengajak untuk dapat menyampaikan rasa belasungkawa pada hari Rabu, 10 April 2013. Kami berangkat menggunakan mobil Andrias tepat jam 6 pagi dari Gelael MT Haryono, dan kami tiba di Rumah Duka jam 8.

Kami di antara yang datang lebih awal dan setelah menyampaikan rasa belasungkawa kepada istri, saudara dan orangtua Chandra, kami sempat mengobrol dengan ibunya Chandra tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Ternyata Chandra baru 2 minggu yang lalu menikah (dengan istri yang kedua Linda) dan perjalanan ke Bunaken ini adalah perjalanan bulan madu mereka. Saat tiba di pulau Bunaken, mereka kemudian memutuskan untuk snorkling, sayangnya mereka tidak menggunakan jasa operator snorkling dan jalan sendiri. Chandra sendiri kabarnya tidak menggunakan pelampung, sedangkan Linda menggunakan pelampung.

Mereka terpesona oleh keindahan terumbu karang alam bawah laut Bunaken, sehingga saat mereka timbul di permukaan laut, mereka baru sadar bahwa mereka sudah jauh dari garis pantai (dan mungkin sudah terseret arus samudera.) Chandra kabarnya meminta Linda untuk berenang gaya punggung ke arah pantai, sementara Chandra mendorong kaki Linda. Tetapi sepertinya Chandra kelelahan (karena melawan arus samudera) dan kemudian diduga meninggal di tempat. Linda kemudian merangkul Chandra sambil water-trappen (mengapung) dan melambai-lambaikan fin berharap ada yang melihat, selama satu setengah jam. Kemudian ada yang melihat dan mereka berdua dievakuasi. Tapi sesampainya di pantai sepertinya Chandra sudah tak bernyawa lagi, walaupun dilakukan tindakan PPPK.

Kejadiannya; Andrias berkomentar; persis seperti di film Titanic. Latar belakang yang membelakangi juga mirip. Persis seperti Jack yang wafat di pelukan Rose, saat terapung di samudera lepas. Bukan maksudnya mengada-ada, tapi memang yang terjadi seperti itu.

Kematian. Tidak ada yang bisa menduga kapan akan datang menjemput kita. Mungkin bagi sebagian kita merasa kurang nyaman untuk membicarakan kematian karena kematian adalah subyek yang dihindari, karena kita takut akan kematian. Bukankah kematian itu adalah suatu yang pasti? Pada kasus Chandra, kematian menjemput 2 minggu setelah menikah. Kematian bisa saja datang 2 hari, 2 bulan, 2 tahun, 2 dasawarsa yang akan datang. Dan kematian Chandra datang saat beliau sedang bersama orang yang disayangi. Kapan dan di mana? Kematian sudah pasti akan datang.

Misa Pelepasan Jenaza Chandra Djunaedy

Hal yang paling bijak dalam menyikapi kematian adalah dengan mempersiapkan bekal yang akan kita bawa melampaui titik yang “menakutkan” bernama kematian. Dan karena kematian itu adalah hal yang pasti, bukankah hal yang logis dan bijaksana untuk mengetahui lebih banyak tentang misteri kematian itu sendiri. Apa itu kematian dan ada apa di baliknya. Kita cenderung takut dengan apa yang kita tidak mengerti. Dan karena kematian itu pasti, agar kita tidak takut terhadap kematian, kita harus mengerti tentang kematian. saat sudah mengerti, kita akan paham dalam mempersiapkan bekal untuk kita bawa melampaui kematian. Instead of running from death, we have to embrace and understand it. Make sense, right?

Percakapan kami dengan sang Ibu terhenti saat sepertinya Pendeta sudah siap memulai Misa Penghiburan. Setelah Misa, jenazah dibawa ke Krematorium Cikadut untuk diperabukan. Sebelum peti mati dimasukkan ke dalam insinerator, Pendeta memimpin Misa Penghiburan. Karena saya pribadi memiliki kepercayaan yang berbeda, dan kebetulan membawa iPad, maka saya (dan Andrias) membantu dokumentasi karena sepertinya tidak sempat dipersiapkan oleh pihak keluarga.

Kematian Chandra menjadi pengingat bahwa kematian kita akan datang, dan kita harus mempersiapkan bekal untuknya. Rest In Peace Chandra Djunaedy. In Memoriam.

Author: farry

Founder of Happinette. CEO of Grassroot Inc. Web Developer inTag Design. Bring Pearl Jam To Indonesia.

16 thoughts on “RIP Chandra Djunaedy: Sebuah Catatan Tentang Kematian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *