Of Everything That’s Possible In The Hearts And Minds of Man

Of Everything That’s Possible In The Hearts And Minds of Man

Judul post ini adalah penggalan dari lirik Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam yang sekaligus lyricist yang pandai dalam menggali makna yang dalam dengan kata-kata bersayap. banyak lirik gubahan Eddie yang berkaitan dengan rasa optimisme dan rasa mampu mengubah dunia, that swagger, yang kalau bagi orang-orang yang pesimis sangat sulit dipahami. Penggalan lirik lain mengenai optimisme tidak jauh-jauh dari album terakhir “Lightning Bolt (2013),” yaitu The Fixer dari “Backspacer” (2009):

If something’s wrong let me put a little fixing on it.

Eddie lah yang menjadi front man dan penggerak Pearl Jam. Visinya untuk tidak bisa melihat sesuatu yang salah. Jika ada suatu yang salah maka dirinya ‘gatal’ untuk membuatnya jadi benar. Dan hal ini tidak hanya berhenti dalam gubahan lirik dan lantunan lagu belaka, Eddie dan teman-temannya mengubahnya menjadi tindakan. Contoh yang sudah lama mereka jalankan adalah Vitalogy Foundation, yayasan sosial dan lingkungan yang sudah berdiri sejak era awal Pearl Jam, membantu causes yang mereka yakini dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik.

Ironisnya sesuatu yang salah adalah fans dari belahan khatulistiwa bernama Indonesia yang masih belum dapat menyaksikan Pearl Jam secara langsung. Maka berawal dari itu maka saya dan teman-teman tergerak untuk memulai kampanye mendatangkan Pearl Jam ke Indonesia. Dimulai dari petisi yang dimulai oleh Gede Manggala pada situs PetitionOnline.com, yang diluncurkan pada tahun 2005 (1,150 pendukung.) Setelah itu kita mulai mengumpulkan tandatangan dukungan sebagai petisi membawa Pearl Jam ke Indonesia. Lalu pada sekitar 2009 diluncurkan kampanye berjudul “Bring Pearl Jam To Indonesia” pada situs Causes.com (3,784 pendukung.)

Diawali dengan gerakan kecil seperti mencetak kartupos untuk Pearl Jam dan membagikannya untuk diisi pesan undangan ke Indonesia, menjual CD terbaru “Lightning Bolt” untuk charity Philippines, hingga mencapai puncaknya dalam penyelenggaraan event “FAITHFULL – Pearl Jam Nite VIII : Bring Pearl Jam To Indonesia” di Rolling Stone Cafe pada Sabtu, 18 Januari 2014 lalu. Pada event itu seluruh kegiatan tersebut mencapai titik kulminasi dan akan ditindaklanjuti dengan membawa tandatangan petisi itu ke pihak manajemen dan band Pearl Jam yang akan melawat di beberapa kota di Australia dengan festival Big Day Out 2014.

Pada awalnya secara pribadi memang saya merencanakan untuk berangkat dan nonton Pearl Jam di Sydney. Waktu itu, saya pikir it’s now or never. Kalau menunggu kesempatan berikut lewat Australia (boro-boro main di Indonesia) harus menunggu 3-4 tahun lagi, untuk Pearl Jam promo album baru. Itupun dengan best case scenario.

Kebetulan seorang teman sesama fans Pearl Jam bernama Irawan yang mukim di Darwin mengajak saya untuk sewa mobil dan road trip keliling Australia sambil nonton Pearl Jam di Big Day Out 2014. Maka jadilah saya menambah itinerary saya dengan BDO Melbourne. Sekali merangkuh dayung… Jadilah saya jammer sejati yang dengan gila mengikuti Pearl Jam ke mana-mana, at least lebih dari satu show.

Lawatan pribadi kemudian berubah menjadi lawatan yang memiliki visi dan misi. Pada niat awal saya memang berencana secara pribadi akan hang out dengan sesama fans Pearl Jam (yang secara kolektif menyebut diri Jamily) di acara pre-party pada malam sebelum konser, atau bahkan segila stalking Pearl Jam di hotel, entrance venue, atau di seputar venue.

Dengan dukungan beberapa pihak akhirnya semuanya kemudian terfasilitasi. Beberapa pihak menawarkan akses melalui jaringan mereka, walaupun tidak bisa dijamin 100% akan berhasil. Usaha mensinergikan antara berbagai pihak ini adalah buah dari event puncak “FAITHFULL – Pearl Jam Nite VIII” kemarin; pihak-pihak yang membentuk sebuah ekosistem: Pearl Jam Indonesia sebagai fan base, Blackrock Entertainment sebagai promotor konser, Rolling Stone Indonesia sebagai media cetak dan online, serta Universal Music Indonesia sebagai pihak label resmi band.

Here I am writing this post, nunggu boarding 18:30 en rout KUL – SYD. Di Sydney insha Allah dijemput Irawan, dan kita memulai perjalanan mencari Pearl Jam. Semacam film Detroit Rock City yang mana di film itu segerombolan anak muda melakukan road trip mencari band Kiss. Kita gak tahu apa yang menanti di depan, tidak ada yang bisa memastikan 100%, tapi kita ada peran dalam turut memastikannya. Dari akhir ke awal. Of Everything That’s Possible In The Hearts And Minds of Man. Apa yang mungkin itu ada dalam hati dan pikiran manusia.

P.s.: Percaya atau tidak, saat saya menulis kutipan dari lagu “Infallible” pada paragraf sebelumnya, tepat saat Eddie Vedder menyanyikan lirik yang sama di iPad saya. Serendipity. Synchronicity.

Author: farry

Founder of Happinette. CEO of Grassroot Inc. Web Developer inTag Design. Bring Pearl Jam To Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *