FAITHFULL, Pergelaran dan Telaah Makna (Esai)

Dalam beberapa hari ini kita akan menyelenggarakan tradisi tahunan Pearl Jam Indonesia, berupa pergelaran tribute untuk band Pearl Jam, bertajuk Pearl Jam Nite, yang kali ini menginjak kali kedelapan. Judul lengkapnya “FAITHFULL – Pearl Jam Nite VIII : Bring Pearl Jam To Indonesia.” Pertunjukan ini bukan hanya tribute show biasa, melainkan menjadi semacam pernyataan sikap bersama yang dituangkan ke dalam format kampanye, dalam usaha mendatangkan kelompok musik Pearl Jam ke Indonesia untuk mengadakan pertunjukan di tanah air.

Wacana untuk kampanye mendatangkan Pearl Jam ke Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2005 oleh teman-teman fans Pearl Jam yang tergabung dalam komunitas Pearl Jam Indonesia, mulai mengumpulkan tandatangan fisik dan petisi online. Lalu mulai dicanangkan secara serius sejak 2009 (dengan judul kampanye “Bring Pearl Jam To Indonesia”) via Causes pada sekitar rilis album “Backspacer” dan kini pada tahun 2013-2014 kembali menghangat dengan diluncurkannya Facebook Page “Pearl Jam Jakarta 2014” di sekitar rilis album “Lightning Bolt”  dan rencana Pearl Jam untuk bertandang ke beberapa kota di Australia dan Selandia Baru dalam festival tahunan “Big Day Out 2014.”

Banyak dari kita yang bertanya-tanya sudah sedekat itu, kenapa tidak sekalian mampir ke Indonesia? Ternyata memang showbiz tidak sesederhana itu. Kita juga sudah berkomunikasi dengan promotor lokal yang sudah mengajukan penawaran ke pihak booking agent Pearl Jam, kemudian mereka berubah pikiran dan belum menjadwalkan Asia Tour yang membuat Pearl Jam dapat manggung di tanah air tercinta.

Beberapa wacana kampanye sudah direncanakan dan diluncurkan, antara lain membuat kartupos ‘komunitas’ untuk ditulis secara kolektif untuk meminta mereka datang ke Indonesia dan dikirimkan ke markas Pearl Jam. Kita juga sudah menjalin kerjasama dengan Universal Musik Indonesia untuk menjual CD “Lightning Bolt” via komunitas, dengan 100% keuntungan disumbangkan untuk Filipina (dengan tujuan kemanusiaan dan menggalang solidaritas sesama fans Pearl Jam di kawasan Asia.) Akan dibuatkan infografik “Bring Pearl Jam To Indonesia : Anatomi Sebuah Kampanye.”

FAITHFULL

Satu hal membawa kita kepada hal lain, tanpa sadar wacana pertunjukan Pearl Jam Nite VIII terbentuk. Kita mencoba dekati pihak-pihak yang berkepentingan: Universal Musik Indonesia (label resmi band,) Blackrock Entertainment (promotor musik) dan Rolling Stone Indonesia (media multinasional) serta Rolling Stone Cafe (venue pertunjukan.) Insha Allah pertunjukan “FAITHFULL – Pearl Jam Nite VIII : Bring Pearl Jam To Indonesia.” akan dilangsungkan di Rolling Stone Cafe (Jl. Ampera Raya 16, Jakarta 12560) pada hari Sabtu, 18 Januari 2014; dimulai jam 19.00 (pintu dibuka 17.00 untuk bazaar.)

Pada acara itu pengunjung dapat masuk venue dengan Rp.50,000 mendapatkan majalah Rolling Stone Indonesia back-issue (edisi November 2013 dengan konten ‘grunge,’) dengan meminta pengunjung untuk menandatangani petisi (Bring Pearl Jam To Indonesia) yang telah disiapkan. lalu tersedia kartu pos khusus yang akan dikirimkan ke markas Pearl Jam dan pengunjung menulis pesan untuk Pearl Jam dan bisa menitipkan uang perangko. Pengunjung juga dapat membeli CD “Lightning Bolt” yang mana keuntungannya akan disumbangkan untuk Filipina, juga T-shirt dan merchandise yang sudah disediakan serta kolektibel, CD, vinyl dan lain-lain dari booth-booth bazaar.

Band-band yang akan tampil membawakan lagu-lagu Pearl Jam yaitu: Uwie & Reza, Bandung Lost Dogs, Perfect Ten, The Mind Charger dan Sonic Wood. Nanti juga ada segmen khusus charity untuk solidaritas Filipina (tolong siapkan jiwa sosial dan dana anda) dan nantikan special mystery guest star yang akan tampil.

Saya akan terus terang: sebenarnya post ini bukan murni untuk promosi, tapi lebih kepada telaah makna: apakah “FAITHFULL” itu? Kenapa dipilih jadi tajuk acara? Kenapa salah eja (menggunakan dua huruf ‘L’?) Semacam curcol.

Sebenarnya “Faithfull” adalah lagu Pearl Jam yang ada dari album “Yield” (1998.) Kita mulai menggunakannya dalam tweet-tweet sebagai hashtag pelengkap #BringPearlJamToIndonesia atau #PearlJamJKT14, karena maknanya yang sudah tentu: percaya. Eddie Vedder pernah berkata bahwa ejaanya memang sengaja dengan dua huruf ‘L’ yang menyiratkan makna ganda: diucapkan seperti kata baku (‘Faithful‘ yang artinya ‘percaya penuh’) dan penulisan dengan dua huruf ‘L’ (‘Faithfull’ yang artinya ‘Faith+Full’ atau ‘penuh dengan kepercayaan.’)

Dan kemudian “FAITHFULL” diangkat menjadi judul event kita, sebagai puncak dari aktivitas kampanye “Bring Pearl Jam To Indonesia,” mengejar momentum untuk disampaikan kepada band atau manajemen saat mereka bertandang ke benua Australia (akan lebih penuh impact dibandingkan hanya dikirim via pos.)

Lalu kenapa begitu ngotot, begitu ngoyo untuk membawa Pearl Jam ke Indonesia? Bukankan lebih baik energi yang kita miliki digunakan untuk hal lain yang “lebih mungkin?” Beberapa teman dalam komunitas bahkan sudah apatis bahwa Pearl Jam akan manggung di Indonesia. Terus terang semangat kita sempat mengalami naik dan turun. Untuk bisa sukses, maka kita harus punya visi dan misi, dan dari mana lagi kalau tidak kita dapatkan dari band yang kita cintai Pearl Jam? Visi dan misi yang kita dapatkan dari band obyek kampanye kita. Semacam visimisinception.

Kembali ke lagu “Faithfull” dengan musik yang ditulis oleh Mike McCready dan lirik yang ditulis secara bernas oleh Eddie Vedder, penuh makna.

FAITHFULL

Plaque on the wall says that, “No one’s slept here.”
It’s rare to come upon a bridge that has not been around, or been stepped on.
Whatever the notion we lace in our prayers, the man upstairs is used to all of this noise.
I’m through with screaming.

It echoes. Nobody hears, it goes, it goes, it goes.
Like echoes. Nobody hears, it goes, it goes, it goes, like this.

We’re faithful. We all believe, we all believe it.
We’re faithful. Oh, we all believe, we all believe it.
We’re faithful. We all believe, we all believe it. (x2)
We are… Woo. Haa haa.

Echoes. Nobody hears, it goes, it goes, it goes. (x2)

We’re faithful. We all believe we all believe it. (x3)
So faithful. Oh, we all believe, we all believe it.

M-Y-T-H is belief in the game.
Controls that keeps us in a box of fear.
We never listen. Voice inside so drowned out. Drowned…
You are, you are, you are a furry thing.
And everything is you. Me you, you me, it’s all related.
What’s a boy to do?
Just be a darling and I will be too, faithful to you.

Secara lirikal Eddy Vedder banyak berbicara mengenai ‘belief‘ dan ‘faith,’ yang saya percaya datang dari hati beliau. Selain lagu “Faithfull”, beberapa lagu yang berbicara tentang ‘percaya’ dan ‘kepercayaan’ adalah (antara lain): “Love Boat Captain” (percaya kepada kekuatan cinta: “Once you hold the hands of love, it’s surmountable“,) “Infallible” (percaya kepada kekuatan hati dan pikiran manusia: “Everything is possible in the hearts and minds of men.“)

Kita semua pasti memiliki sesuatu untuk dipercayai: Kita percaya kepada agama kita, oleh karena itu kita menjalankan apa yang diwajibkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Tuhan sesuai agama kita. Kita percaya kepada keluarga kita: dari pagi hingga petang kita keluar mencari nafkah, semua dilakukan untuk keluarga kita, karena kita pasti percaya akan keluarga kita.

Plaque on the wall says that, “No one’s slept here.”
It’s rare to come upon a bridge that has not been around, or been stepped on.
Whatever the notion we lace in our prayers, the man upstairs is used to all of this noise.
I’m through with screaming.

Sebenarnya semua sudah pernah dikatakan, dan tidak pernah cukup untuk dikatakan (sedikit menyitir lirik “Love Boat Captain”.) Kita sudah tahu apa yang kita percayai. Suara itu ada dalam doa-doa kita, tapi seolah tidak ada. Yang Di Atas (Tuhan) juga sudah tahu apa yang ada dalam doa kita, dan kita sudah lelah untuk berteriak. Tapi suara-suara itu ada.

It echoes. Nobody hears, it goes, it goes, it goes.
Like echoes. Nobody hears, it goes, it goes, it goes, like this.

We’re faithful. We all believe, we all believe it.
We’re faithful. Oh, we all believe, we all believe it.

Suara itu bergema, walaupun tidak ada yang mendengarkan. Tapi suara itu ada dan bergema. dan suara itu berbunyi bahwa kita percaya apapun yang kita percayai, dimulai dari suara itu.

Contoh yang populer dan kontekstual: Kita percaya bahwa Pearl Jam akan ke Indonesia. Kita ingin percaya bahwa Pearl Jam akan ke Indonesia. Jadi di mana perbedaannya? Yang pertama kita percaya akan sesuatu. Yang kedua kita ingin percaya akan sesuatu. Artinya belum percaya, atau ekstrimnya tidak percaya. Dan tidak percaya akan sesuatu itu sudah merupakan kepercayaan bentuk lain lagi. Suatu apatisme.

M-Y-T-H is belief in the game.
Controls that keeps us in a box of fear.
We never listen. Voice inside so drowned out. Drowned…

Apatisme (belum/tidak percaya) ini yang dicoba dikontemplasikan oleh Ed. Mitos itu adalah percaya pada kepada sebuah permainan di mana kita diletakkan di dalam dan dikendalikan sebuah kotak berlabel “takut.” Kita takut untuk percaya akan sesuatu. Artinya kita dikendalikan, dilumpuhkan oleh rasa takut.

Suara keinginan kita itu berasal dari suara hati kita (suara hati) yang murni (ada yang bilang dalam sufisme bahwa ‘suara hati’ adalah ‘suara Tuhan’) sebelum dinegasikan dan dikalahkan oleh suara takut (‘suara setan?’) Suara itu ada dalam hati, hanya saja ditenggelamkan oleh ketakutan yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran kita.

Tapi takut itu bukan untuk dimusuhi, tapi untuk dikenali dan sebagai pertanda bahwa kita sedang bertumbuh. Bukankah dulu saat kita baru lulus TK, kita melangkah ke bangku SD dengan rasa takut? Takut adalah baik. Hanya perlu dikenali. Tidak percaya dan belum percaya bertumbuh menjadi percaya. Kita naik kelas.

Oleh karena itu kita bersama-sama mengusung acara “FAITHFULL – Pearl Jam Nite VIII : Bring Pearl Jam To Indonesia” ini untuk sama2 menemukan kembali suara itu, menyatukan dan menggemakannya kembali dalam suatu chorus lagu:

We’re faithful. We all believe, we all believe it.
We’re faithful. Oh, we all believe, we all believe it.

Sampai jumpa tanggal 18 januari 2014 di Rolling Stone Cafe.

Author: farry

Founder of Happinette. CEO of Grassroot Inc. Web Developer inTag Design. Bring Pearl Jam To Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *